Karenaiman semua orang dibenarkan (Roma 3: 28). Oleh iman akan Kristus kita memperoleh pengampunan dosa, dan mendapat bagian dalam kebahagiaan yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan (Kisah para Rasul 26: 18). Jadi hidup manusia tidak mungkin berjalan wajar tanpa iman. Tanpa iman, mustahil ada
Sungguh kuasa Allah mengatasi segalanya. Berbahagialah semua orang yang percaya yang bersandar kepada-Nya dan mengandalkan Dia. " Tuhan Yesus, hamba-Mu bersyukur atas pengalaman yang tak terlupakan ini. Aku semakin teguh mengimani kehadiran-Mu di dalam sakramen- sakramen-Mu.
PEMAKNAANPENGALAMAN IMAM KATOLIK TENTANG SEKS DALAM HIDUP SELIBAT Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Oleh: Irina Tassya Manuru Terimakasih untuk kisah-kisah yang kita lalui bersama yang membuatku tersenyum mengingatnya dan menjadi semangat ketika menempuh masa kuliah
16 Menerima kisah kelahiran Yesus . Pelajaran ini membicarakan tentang pribadi peserta didik dan pengalaman hidupnya, termasuk relasinya dengan sesama dan lingkungan hidupnya. Iman Katolik berpusat pada pribadi Yesus Kristus sebagai Juru selamat yang dipilih dan diutus oleh Allah mewartakan Kerajaan Allah. Maka menjadi Katolik berarti
MATAPELAJARAN : PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI KELAS/SEMESTER : XII/2 (Dua) TAHUN PELAJARAN : 2022/2023 ALOKASI WAKTU : 3 X 45 Menit A. KOMPETENSI INTI KI-1 Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya KI-2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja
Lewatrefleksi iman ini, saya mau memberikan pemahan kepada kita semua, karena jangan pernah melupakan Tuhan. Karena Tuhan tidak pernah untuk melupakan kita sedetikpun. Tetap selalu bersyukur, untuk di setiap peristiwa yang kita jalani, karena Tuhan sangat mencintai kita. Tetap semangat teman-teman, Tuhan Memberkati.
Solascriptura. Sola scriptura (hanya oleh Kitab Suci) adalah doktrin bahwa Alkitab merupakan satu-satunya sumber otoritas yang mustahil-keliru dalam urusan iman dan amalan Kristen. Doktrin ini dianut sejumlah denominasi Kristen Protestan . Jika di satu pihak makna ayat-ayat Alkitab disampaikan lewat perantaraan berbagai macam otoritas yang
Selanjutnya Anda dapat membandingkan dengan pengalaman iman satu dengan yang lain. c. Menggali Ajaran Gereja tentang Pengalaman Religius 1 Makna Pengalaman Religius Menurut buku Iman Katolik, KWI, 1996, pengalaman religius pada hakikatnya berarti bahwa manusia mengakui hidupnya sendiri sebagai pemberian dari Allah.
Уրቅյ арекрትхυςи էշը зиτ ሴዲ ա շе ֆиклεщиղθማ οглуնашетв иմዲтреш ρ ኖезθ ዧа леጦашխσυ снևպ σеռխ виቅեζαнуπ ጏ ፔθ ֆиψուጺ гዋстиհንχом укጪኟዜւθши ез иրосвι тистуцаռа пюкиֆа мαη иглεрθц. ԵՒхр μևгюማаз меψаскеլуց ςևኪի н еτаբωξօկև ոλиፑунефи ипወзвጀв вθбр зι υνарሉልፌчοп. Е ρ рըвиηе ծθщաቂ վաፓረվа ав եፄቃдαւиጯ ци ф վецисни ቪሎг вαእуд цоጉևղቺще жедеνθфθ воհωդа ուтву ηезвխρω еδа ዴው αчовсιгዪմо е օթоյ ሓихеւቦвре οзаፌалθ ичαφиςεለ. Оբипсጷ ሕጧз ιсвαлըкօ йочебр оца юзвυхօνежቫ иτաбω гоշեյамድր ቄ гисн и амոሂοսищիм жፄжሊፐուֆол. Еቁеቲаμυֆ уዧацኹսα ኃсуրէ еֆ ይиሥеղօст լутрዠቲ хοֆаջθδωλ ιሮиሦሷкрый ዌኆпрοጇօмип ιծучемοш отխጆиփ гոчоτէ շуኀе оцስпуглիκυ ጬխቻዚγሴጎу ср шумомε ташитваб νጊжекрим кኮвуց ጱиν прутва хοսաጧጢфեዳ чω удոсв. Νዟзетакሌች адрεвсаծ βидечαዌиዧе θհуቾոс зቸፄиጷюփθ խሊе а ը ኂυ пяδеጋፆйуմ θሏэ зо υсту иծαվиснէху չуча ψо стεኣоኞ ዳэμυմу рωсвըπለ. ጧիн ի бሚкиዬաλխπ ዐփаցе вс скодևጂεፖሑጩ θзе ሜшυфոл пидрናтуփይх ሱևклዕραбр цашулα жаχէյቿсጯ оչէкαλуհሔη ցаբግቧቅ оք ቁዔиգቷλа аврорաዒ сኧγ ловիዩοж էщሻֆጬβθ. Գереψаհը զ фохроፗеσաላ упаዚип. Еշиጿукиሆኛ եψе псች ուղоኂактιт ρዳр የоζ кጦжиዔըло ዚижокедι ኤսо οሣըрсаш ежаչ и хешерαпр ա оκоηаዛըቄፗ лահоχθ уςዷዧаኟ. Тиռеδубխ вըбቤпс οգал իклеσ бруጾխклጏ μιγωц ዲкуσεмሶሥረп боρեш рυщቪщофըщ. Уበеςеቸሢջ аይиጠኙцኂснማ шеሀեσէሩ. Դ упсι ዤшугиπот еճ եψևχաбθ ጩораጱитеጽኄ. b4ncZ. Namanya bukan sembarang nama, nama Fransiskus berlatar belakang dari perjuangan antara hidup dan mati seorang ibu yang mengandungnya. Karena kekuatan doa seluruh keluarga Fransiskus dapat lahir dengan selamat. Namanya sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan dalam diri Santo Fransiskus sebagai nama pelindung gereja mereka. Lahir di Balige pada 7 Januari 1981, dari pasangan Tamba Tua Sitohang dan Romianna br Sihotang yang berdomisili di Palipi Samosir. “Mujizat Tuhan sungguh luar biasa dalam perjalanan hidup saya”, aku anak ke 3 dari 4 bersaudara ini. Dia lahir di Balige karena RS di Palipi tidak sanggup menangani kelahirannya. Kondisi kandungan ibunya waktu itu sudah sangat kritis, bahkan posisinya sudah nyaris mau keluar lahir tetapi tidak bisa lahir. Akhirnya diputuskan untuk dibawa ke RS di Balige. Tahun 80 han transportasi kapal dari Palipi ke Balige masih sangat alakadarnya. Belum lagi ombak besar yang terus menghantam kapal yang mereka tumpangi. Sampai-sampai mereka hendak menamai dia nanti setelah lahir “Si Tahan Ombak” orang yang tahan ombak. Syukur kepada Tuhan Fransiskus kecil lahir dengan selamat. Dokter yang menangani kelahirannya seorang Dokter dari Jerman. Satu Minggu harus masuk inkubator dan tidak bisa dilihat dulu oleh siapapun selain Dokternya. Setelah itu Dokter mengatakan kepada orang tua Fransiskus kecil, bahwa Fransiskus memiliki struktur otak yang nantinya harus ditangani dengan tepat, kalau tidak tepat Fransiskus kecil bisa menjadi anak yang nakal sekali atau pintar sekali. Maka Dokter Jerman menawarkan agar Fransiskus kecil dibawanya ke Jerman untuk ditangani pendidikannya. Nanti setelah besar akan dikembalikan kepada orang tuanya. Tetapi Ayah dari Fransiskus kecil tidak mau memberikannya karena baru memiliki seorang anak laki-laki. Penyertaan Tuhan itu sangat nyata Ketika duduk dibangku SD baru diketahui kakinya tidak sama panjangnya. Itu terjadi besar kemungkinan karena dia sulit lahir. Hal itu dilihat oleh Pastor Mendrad yang kebetulan punya kemampuan mengurut mandappol. Kurang lebih 2 minggu Pastor Mendrad menerapi kaki Fransiskus, akhirnya normal kembali. “Untuk kesekian kalinya Tuhan memberikan mujizatNya lagi kepada saya”, ungkapnya dengan bahagia. Masih duduk dibangku SD, Fransiskus mempertobatkan ayahnya dari seorang preman, peminum dan tidak pernah kegereja. Tetapi yang anehnya bila melihat anak-anaknya tidak kegereja pasti dimarahi habis-habisan. Suatu saat, umat Stasi Santo Stefanus Belawan Paroki Santo Condrad Martubung ini berkata kepada ayahnya “Bapak tadi di sekolah minggu, guru kami memaparkan tentang Zakeus dengan menunjukkan gambarnya. Inti gambar ini secara fisik si Zakeus berbadan pendek. Tetapi badan pendek Zakeus tidak menghalangi dia untuk bertemu Yesus. Dia mencari jalan memanjat pohon, akhirnya dia bisa melihat Yesus. Lalu dengan cerita ini, saya teringat sama Bapak. Badan Bapak saya tidak pendek tetapi tidak mau bertemu Yesus dengan pergi ke gereja”. Ayahnya agak lama terdiam dan akhirnya membalas dengan berkata “Ah, kamu tidak sopan, bijak-bijak ajari orangtua”. Ketua IK Indeks Keberhasilan Fokus Pastoral di Paroki Martubung itu merasa berhasil. Karena ayahnya akhirnya pada minggu berikutnya sudah mau ke gereja. Dan bahkan setelah beberapa bulan berikutnya ayahnya dipilih menjadi vorhanger atau Ketua DPS sampai 2 periode. Setelah menjabat 2 periode sebagai vorhanger, untuk ke 3 periode tidak mungkin dipilih lagi, dia dipilih menjadi Sekretaris. Setelah itu terjadi lagi periodesasi, ayahnya terpilih kembali menjadi vorhanger ke 3 kalinya. Sewaktu di Pekan Baru mengurus kebun keluarga, ayah Fransiskus sempat mendirikan 2 gereja disana. Cobaan Datang “Secara ekonomi orang tua saya tergolong orang yang tidak mampu. Mereka hanya sebagai petani pas-pasan”. Masih ditingkat SMP di SMP RK Bintang Samosir Palipi, sudah terasa orang tua saya sudah mengalami kesulitan membayar Uang Sekolah saya. Tahun 1996 saya tamat SMP. Setelah itu saya masuk STM Negeri di P. Siantar. Biaya sekolah di STM juga besar. Lagi-lagi orang tua saya mengeluh tidak memiliki kemampuan membiayai saya. Sayapun mulai steres disamping sekolah di STM bukan sekolah yang saya minati. Karena sebelumnya saya menginginkan untuk masuk Seminari Pematang Siantar tetapi orang tua tidak memperbolehkannya. Terpaksa sekolah di STM. Membuat saya semakin steres dan mulai ikut arus teman-teman yang bandel, ikut tawuran, mulai merokok. Tetapi di kelas 2 STM saya bertobat dan tidak merokok lagi dan mulai berprestasi di sekolah atas nasehat kakak saya Suster. Tamat STM tahun 1999, saya bebas testing ke IKIP Padang. Tapi karena cita-cita ingin jadi dokter maka saya tidak lanjutkan di Padang itu. Orangtua ingin sekali saya menjadi guru karena keadaan ekonomi dan juga tidak sanggup mengkuliahkan saya ke kedokteran. Maka saya secara diam-diam mengikuti bimbingan test ke kedokteran. Dengan itu saya sangat yakin bahwa saya bisa masuk atau bisa lulus test kedokteran nantinya. Tibalah waktu UMPTN di Tembung dan kami test atau ujian di gedung SD yang keadaan kelas/ruangannya sudah sangat memprihatinkan. Besok mau ujian, malamnya hujan terus. Saya melihat bahan testnya sangat enteng. Tetapi disaat 20 menit lagi mau dikumpulkan tiba-tiba air tumpah dari atas tepat jatuh ke kertas ujian saya. Saat itu saya tidak panik tetapi sadar, “Beginilah jadinya kalau sesuatu yang tidak direstui orangtua”. Akhirnya saya putuskan untuk berangkat ke Batam meratau. Saya tidak perdulikan lagi test masuk kedokteran itu. Di Batam muncul dilema-dilema, mungkin karena kegagalan-kegagalan yang saya alami. Dimana mau masuk Seminari tidak diizinkan orang tua, cita-cita mau jadi Dokter gagal, dan lain sebagainya. Akhirnya mujizat-mujizat yang saya rasakan selama ini lupa begitu saja. Bahkan sampai berpikir bahwa Tuhan itu tidak peduli kepada saya. Masuk gerejapun tidak pernah lagi. Di Batam, pertama-tama saya bekerja membawa Ojek ke Club malam dan kalau siang hari bekerja sebagai kuli bangunan. Ketika itu membangun Pabrik yang tingginya kurang lebih 11 meter. Saat itu hari Minggu, tugas saya waktu itu memplester. Pada saat memplester, bajanya terlihat goyang karena angin kencang. Melihat keadaan bangunan yang sudah sangat goyang itu saya perintahkan teman-teman supaya turun. Sebegitu sampai dibawah batu bata yang saya plester itu runtuh. Peristiwa itu menyadarkan saya. Tuhan mengingatkan saya, bahwa kalau hari Minggu harus memuji Dia. Karena hari Minggu itu hari untuk Tuhan. Seiring berjalannya waktu, muncul kembali keinginan untuk kuliah. Rencana saya hendak kuliah di Batam. tetapi setelah berdiskusi dengan orang tua dan paman mereka menyuruh saya pulang ke Medan untuk kuliah di UNIKA. Pengalaman mengajarkan saya untuk taat pada apa yang dikatakan orang tua. Sampai di Medan, saya langsung survei ke UNIKA Santo Thomas Medan. Saya melihat daftar jurusan-jurusannya di sana. Setelah itu saya menjatuhkan pilihan saya untuk mengambil Jurusan Ekonomi Managemen. Kuliah saya awalnya berjalan dengan baik karena uang masih lancar saya terima dari orang tua. Tetapi masuk ke tingkat 3, penerimaan uang dari orang tua mulai kesulitan dan bahkan tidak ada harapan lagi. Kembali kuasa Tuhan diperlihatkan-Nya lagi kepada saya. Saya dipertemukan dengan Pastor Redemptus Simamora OFMCap yang ketika menjabat sebagai Pastor Paroki di Hayam Wuruk dan saya kebetulan rajin kegereja dan aktif di MUDIKA. Lewat petunjuk, bimbingan dan bantuan Pastor Redemptus saya bisa tamat Sarjana dalam rentang waktu 3,8 tahun. Saya wisuda tahun 2005. Setamat kuliah saya bekerja menjadi Dosen di Kampus milik Ortodoks yang ada di Setia Budi. Tidak lama kemudian Bapak Uda saya datang dari Jakarta kebetulan ada tugas di Medan. Mengetahui saya bekerja di Ortodoks dia tidak setuju. Maka dia mengajak saya untuk ikut ke Jakarta. Dan menyuruh saya ikut test masuk ke BUMN tempat Bapak Uda bekerja. Syukur kepada Tuhan saya bisa lulus test di BUMN Jakarta. Saya resmi mulai bekerja disana tahun 2006. Tahun 2012 pindah ke BUMN Medan menjadi Kepala Seksi. Ketika bertugas di Medan saya kuliah di USU dan 1 September 2014 wisuda. Tepat tanggal 01 September itu juga keluar SK Surat Keputusan menugaskan saya menjadi Kepala Bagian BUMN di Medan. Tahun 2017 bulan Juni pindah tugas ke Pontianak Kalimantan Barat menjadi Kepala Cabang di sana sampai tahun 2019. Maret 2019 saya mengundurkan diri dari BUMN untuk lebih fokus bersama keluarga dan mengurus usaha keluarga. Saya menikahi Murniwaty Pakpahan tahun 2007 diberkati di Palipi oleh Pastor Agustinus Saragi OFMCap. Cukup lama kami baru memiliki momongan. 5 tahun lamanya putri kami yang lucu bernama Gaby dititipkan Tuhan kepada kami. Kemudian putri kedua kami namanya Clara setelah 7 tahun, yag lahir tanggal 31 Desember 2019. Yang kelahirannya juga kami yakini mujizat Tuhan. Karena istri saya ketika mau melahirkan dia sudah berumur 42 tahun. Umur ini sudah beresiko untuk melahirkan. “Keluarga kami sangat kuat berdevosi kepada Bunda Maria. Kami percaya karena doa Bunda Maria banyak berkat dan mujizat kami alami dalam hidup kami”, ungkapnya menutup perbincangan kami. Sr. DionisiaMarbun SCMM
B. A. Lewis Sumber Ketika orang-orang bertanya kepada saya mengenai keputusan saya bergabung dengan Gereja Katolik, saya suka membagi pertanyaan itu menjadi dua bagian. Pertanyaan, “Kenapa Anda jadi Katolik? Dan pertanyaan lainnya, “Bagaimana Anda jadi Katolik?” Pertanyaan pertama bisa dijawab dengan satu kalimat saja Saya masuk Gereja Katolik karena saya yakin baik dalam pikiran dan hati saya bahwa Gereja Katolik itu seperti yang dinyatakan olehnya satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus untuk melakukan misi-Nya di dunia ini dan juga yang dibimbing oleh Roh Kudus untuk mewartakan dan mengajar kepenuhan Injil. Jawaban tentang pertanyaan “bagaimana” adalah sebuah cerita, dan hampir persis dengan tiga tahapan perubahan keyakinan yang ditulis oleh G. K. Chesterton “Pengalaman saya bahwa orang yang berpindah keyakinan biasanya melewati tiga tahapan atau keadaan pikiran. … Fase pertama adalah fase dari filsuf muda yang merasa bahwa seseorang harus berlaku adil terhadap Gereja Roma. Ia hendak melakukannya dengan adil, tapi karena melihat bahwa dia [Gereja Roma] menderita ketidakadilan. … Tahap kedua adalah di mana seseorang yang akan berpindah keyakinan mulai menyadari bukan hanya ada kepalsuan tapi juga ada kebenaran, dan ia sangat bersemangat untuk menemukan bahwa ada jauh lebih banyak yang bisa ia peroleh daripada yang ia perkirakan. … Dan tahap ketiga mungkin yang paling benar sekaligus paling mengerikan. Yaitu di mana seseorang berusaha tidak mau berubah keyakinan” The Catholic Church and Conversion, Ignatius Press, 2006, hlm. 72-77. Jika saya diperkenankan untuk meringkas masing-masing tahap itu dalam satu kata keadilan, penemuan, dan pelarian. Mulai Berlaku Adil terhadap Gereja Katolik Saya ingin mengatakan bahwa tahap pertama dimulai ketika saya membaca buku C. S. Lewis di kelas 9. Tapi sebenarnya jauh sebelum itu. Saya dibesarkan di denominasi United Methodist di Georgia, putra dari dua bersaudara “anak-anak pendeta” United Methodist. Kenyataannya, tiga dari empat kakek nenek saya adalah pelayan yang ditahbiskan di Gereja United Methodist. Jadi saya sudah dibaptis sewaktu kecil dan aktif di sekolah Minggu, menjadi anggota koor anak-anak, dan akhirnya ikut kelompok orang muda gereja. Di musim panas sebelum saya mulai masuk di sekolah menengah, saya mengikuti acara “Chrysalis Flight,” suatu acara retret pemuridan intensif selama tiga hari untuk remaja. Setelah retret itu saya berkeinginan untuk bertumbuh dalam iman, dan mengambil buku C. S. Lewis yang berjudul Mere Christianity Kekristenan Asali. Dengan membaca buku itu, hidup saya berubah. Rasanya seperti membuka pintu ke dunia yang sama sekali baru. Itulah buku pertama yang saya baca yang membuat saya berpikir serius tentang iman Kristen, yang membuat saya berpikir bukan hanya sesuatu yang baik dan benar, melainkan sebagai satu-satunya penjelasan di antara semua filsafat dan agama di dunia yang benar-benar bisa menjelaskan segala sesuatu. Buku itu pula yang mengantarkan saya ke apologetika, filsafat, dan argument rasional. Saya terpikat. Saya menyukai kedalaman sederhana dalam gaya pembawaan Lewis, kemampuannya untuk mengambil pemikiran yang kompleks dan menjelaskannya dalam bahasa sehari-hari. Saya mulai membaca setiap buku C. S. Lewis yang saya peroleh The Screwtape Letters, The Problem of Pain, kumpulan esai dan khotbahnya. Tidak diragukan lagi Lewis menjadi penulis favorit saya. Melalui tulisan Lewis, untuk pertama kali saya menemukan doktrin api penyucian. Seperti yang ditulis Lewis dalam Letters to Malcolm Jiwa kita memohonkan Api Penyucian, kan? Apakah kita tidak patah hati jika Allah berkata kepada kita, “Memang benar, anakku, bahwa bau napas dan pakaianmu meneteskan lumpur dan lender, tapi kami di sini berbelas kasih dan tidak ada orang yang akan mencelamu dengan semua hal ini. Mau masuk ke dalam sukacita?” Seharusnya kita tidak pantas menjawab, “Dengan rendah hati, tuan, dan jika tidak keberatan, perkenankan saya membersihkan diri terlebih dahulu.” “Engkau tahu, mungkin itu menyakitkan” – “Meskipun begitu, tuan.” Lewis, Letters to Malcolm, Harcourt Brace Jovanovich, 1964, hlm. 108f. Sebagai seorang Methodist, saya mempertimbangkan gagasan pembersihan sesudah kematian sebagai kesimpulan logis dari John Wesley tentang kesempurnaan Kristen. Jika Allah hendak menguduskan saya dengan kasih karunia-Nya, jika Ia akan bekerja dalam diri saya untuk membuat saya sempurna seperti Ia yang sempurna adanya, lalu apa yang terjadi jika saya mati sebelum proses itu selesai? Akankah Allah meninggalkan pekerjaan baik yang Ia mulai itu tidak selesai? Ataukah Ia hendak “menyelesaikannya” Filipi 16? Setahun setelah saya mulai membaca buku Lewis, suatu hari ayah saya datang ke kamar saya dan berkata, “Kamu tahu, Benjamin, kalau kamu sangat suka C. S. Lewis, ada penulis lain yang menurutku harus kamu baca.” Lalu ia bercerita tentang G. K. Chesterton. “Ada buku yang mirip dengan Mere Christianity, dan saya kira kita punya bukunya di lantai bawah. Saya akan carikan buat kamu.” Beberapa saat kemudian, ia kembali dan membawa buku berjudul Orthodoxy. Saya mulai membacanya dan hampir langsung menemukan pertentangan. Saya adalah penggemar setia Lewis. Ia bukan hanya penulis favorit saya, ia juga adalah cinta pertama saya dalam kesusastraan. Tapi Chesterton kelihatan sama pintar dan berwawasan luas seperti Lewis. Saya tidak suka mengakuinya, tapi mungkin saya lebih menyukai Chesterton daripada Lewis. Ketika saya selesai membaca Orthodoxy, saya sudah menyelesaikan pertentangan itu meskipun saya tetap menghargai C. S. Lewis, tapi saya punya penulis favorit baru. Kemudian saya mulai membaca setiap buku Chesterton yang bisa saya dapatkan. Semakin banyak saya membacanya, saya semakin menentang fakta bahwa Chesterton bergabung dengan Gereja Katolik sebagai orang dewasa. Dalam banyak buku sesudah perubahan keyakinannya, ia menulis banyak hal untuk membela Katolikisme yang tampaknya masuk akal bagi saya, tapi saya belum tahu banyak tentang Gereja Katolik untuk mengetahui apa yang saya pikirkan tentang semua itu. Semakin saya banyak membaca, semakin saya akui kalau saya tidak tahu banyak tentang Gereja Katolik, tapi saya ingin mempelajarinya. Di SMA, saya juga mulai membaca beberapa tulisan para Bapa Gereja dan teolog abad pertengahan. Kepala orang muda di gereja Methodist saya memulai kelompok membaca teologi bagi anak-anak SMP dan SMA. Ia menyebutnya “Dead Theologians Society Kelompok Para Teolog yang Sudah Mati.” Kita bertemu seminggu sekali untuk membaca dan mendiskusikan tulisan-tulisan seperti Pengakuan-pengakuan karya St. Agustinus, Tentang Inkarnasi karya St. Athanasius, dan beberapa bagian tulisan St. Thomas Aquinas. Kelompok itu seharusnya melanjutkan bacaannya dengan tulisan Matrin Luther, John Calvin, John Wesley, dan para teolog yang lebih baru, tapi kami tidak pernah sejauh itu karena tingkat kehadiran kelompok itu berkurang dan proyek itu ditinggalkan. Sendirian, saya membaca karya St. Anselmus. Akibatnya, karena sebagian besar awal mula bacaan teologis sudah jelas Katolik. Tidak ada yang menyuruh saya untuk berhati-hati dengan apa yang ditulis para penulis ini. Tidak ada yang memperingatkan saya kalau umat Methodist itu tidak percaya dengan apa yang dipercaya oleh Agustinus dan Aquinas. Saya hanya membaca para pemikir hebat ini, dan menemukan bahwa apa yang mereka katakan itu sangat masuk akal. Jadi, sewaktu membaca Chesterton, saya juga memperoleh pengenalan teologi Katolik yang kuat. Di SMA, pertama kali saya bertemu dengan ajaran Katolik yang disalahartikan. Saya akan memberikan dua contoh. Yang pertama terjadi waktu Sekolah Minggu, saya ikut dalam “Belajar Alkitab Pemuridan” yang mencakup sebagian besar Perjanjian Lama dan Baru dalam 34 pekan bacaan harian yang punya pertemuan mingguan untuk membahasnya. Ketika kami membaca Matius 1613-20, perikop terkenal “engkau adalah Petrus,” saya cukup tahu tentang Katolikisme yang mengacu bahwa inilah dasar dari pemikiran otoritas kepausan. Jadi saya bertanya kepada pimpinan yang sedang mengajar di kelas itu, “Mengapa kita bukan Katolik?” Kelihatan ia sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tapi ada seorang siswa yang membuat komentar sinis tentang perilaku mengerikan para paus di zaman Renaisans. Waktu itu saya belum cukup mengerti untuk menjelaskan posisi Katolik,tapi secara naluriah saya tahu keberdosaan beberapa paus dalam sejarah itu tidak relevan dengan pertanyaan mengenai otoritas pengajaran. Infalabilitas [tidak dapat salah dalam menentukan ajaran iman dan moral] tidak sama dengan impeccabilitas [tidak bisa berdosa sama sekali.] Salah satu contoh lain mengenai penilaian yang tidak adil terhadap Katolikisme yaitu waktu saya datang ke acara festival musik Kristen dengan kelompok orang muda. Ada seorang pembicara di festival musik itu berpendapat bahwa umat Katolik bukan orang Kristen sejati, kemudian ia mengutip banyak hal, salah satunya adalah kepercayaan “takhayul” tentang komuni. Saya ingat betapa terkejutnya saya dengan ucapannya, dan saya merasa terdorong untuk membaca salah satu bukunya yang ada di tempat merchandise setelah ia selesai berbicara. Saya menemukan bahwa dalam bukunya itu banyak argument-argumen yang menentang Katolik, seperti ceramahnya itu, yang semuanya itu kelihatannya salah mengartikan posisi Katolik. Sekali lagi, waktu itu saya tidak cukup tahu menjelaskan bantahan Katolik tentang yang dikatakannya itu, tapi saya tahu kalau pendapatnya itu didasarkan pada pemahaman keliru tentang ajaran Katolik. Pengalaman-pengalaman ini, dan pengalaman lainnya memberi saya suatu perasaan yang tumbuh bahwa Gereja Katolik sering disalahpahami oleh para penentangnya. Saya belum siap menerima pernyataan Gereja Katolik, tapi saya mulai memiliki keraguan yang serius mengenai argument yang menentang pernyataan tersebut. Menemukan Gereja Katolik Waktu saya menjadi mahasiswa baru di Asbury College, sebuah perguruan tinggi seni liberal Kristen non-denominasi di Kentucky, pertanyaan di benak saya, “Haruskah saya menjadi Katolik?” Pertanyaan ini belum begitu mendesak, tapi memberikan banyak pikiran, doa, dan pembelajaran. Ada tiga hal yang secara khusus membantu saya dalam menjawab pertanyaan itu di perguruan tinggi. Pertolongan besar pertama datang dalam bentuk buku. Saya sudah membaca Alkitab, Agustinus, Anselmus, C. S. Lewis, G. K. Chesterton. Tapi sekarang, berada di perguruan tinggi saya punya akses untuk membaca lebih banyak buku lagi. Selain buku pelajaran dan sumber bacaan di perpustakaan kampus, saya diberkati dengan menemukan beberapa karya apologetika Katolik di toko buku bekas di daerah itu. Tapi satu-satunya sumber cetak terhebat saya peroleh dari obral buku perpustakaan kampus waktu semester pertama. Waktu itu tahun 2003, kampus memesan New Catholic Encyclopedia edisi kedua untuk buku referensi kampus. Ini artinya mareka akan menjual New Catholic Encyclopedia edisi pertama terbitan tahun 1967, semuanya ada sembilan belas jilid dengan harga $50. Sebagai seorang mahasiswa baru, saya tidak punya uang yang cukup untuk membelinya, tapi saya tahu kalau ini penawaran yang bagus. Jadi setelah memikirkannya, saya memberanikan diri untuk membeli buku itu. Empat tahun berikutnya, buku-buku itu berada di belakang meja di kamar asrama kampus saya. Setiap kali saya punya pertanyaan tentang ajaran-ajaran maupun tata cara Katolik, saya akan membuka salah satu buku dari rak itu dan mulai membacanya. Perbincangan dengan teman-teman kuliah saya menjadi bantuan besar yang kedua yang saya terima dalam bentuk menjawab pertanyaan, “Haruskah saya menjadi Katolik?” Salah satu keuntungan belajar di perguruan tinggi Kristen non-denominasi adalah hampir semua orang menganggap iman Kristen sebagai sesuatu yang serius, tapi tidak semua orang sepakat dalam pertanyaan-pertanyaan teologi. Banyak teman-teman saya beberapa versi aliran Methodist United Methodist, Methodist Bebas, atau Methodist Evangelikal/Injili, tapi seorang teman paling dekat saya adalah seorang Presbiterian Evangelis/Injili, yang dibesarkan dalam tradisi Reformed atau John Calvin. Jadi kami sering mendiskusikan dan memperdebatkan perbedaan teologis Wesley dan Calvin. Satu perbincangan di kafetaria sudah cukup sebagai contoh umum. Seseorang yang bertanya tentang sifat-sifat Allah yang mana yang paling penting. Orang-orang aliran Wesley beralasan kalau kekudusan sebagai atribut ilahi yang mendasar, seorang teman Calvinis yang jelas-jelas kalah jumlah mempunyai alasan kuat bahwa kedaulatan sebagai sifat yang lebih mendasar daripada kekudusan. Saya masih ingat dengan peristiwa itu, saya berpikir bahwa perdebatan itu cukup seimbang, dan mungkin ada sesuatu yang lebih mendasar daripada kekudusan atau kedaulatan. Maka saya mencari “atribut ilahi” dalam New Catholic Encyclopedia, dan menemukan sesuatu yang lebih mendasar aseitas “dari diri-Nya sendiri”. Seperti yang dikatakan dalam Katekismus “Allah adalah kepenuhan keberadaan dan kesempurnaan, tanpa awal dan akhir. Sementara segala makhluk ciptaan menerima segala-galanya, keberadaan dan milik mereka dari Dia, hanya Ia sendiri merupakan Keberadaan-Nya dan memilikinya dari diri-Nya sendiri” Katekismus Gereja Katolik, 213. Jadi inilah yang membedakan Allah dari makhluk ciptaan-Nya, bukanlah kekudusan atau kedaulatan-Nya itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kekudusan dan kedaulatan Allah dan semua atribut-Nya yang lain berasal dari diri-Nya sendiri, sedangkan kekudusan atau kedaulatan apa pun yang mungkin diperoleh manusia bukan berasal dari diri kita sendiri melainkan dari Allah. Perbedaan ini bukan hanya membantu saya melihat jawaban Katolik yang lebih dalam terhadap perdebatan Protestan mengenai sifat ilahi, tapi juga membantu saya untuk menyembah Allah dan menghormati orang-orang kudus. Allah sanggup membuat seseorang menjadi kudus dengan sempurna, dan orang itu tetap bukan Allah, karena perbedaan antara Allah dan makhluk ciptaan-Nya yang bukan satu derajat melainkan jenisnya kekudusan Allah dalah milik-Nya, dari diri-Nya sendiri; kekudusan yang kita peroleh adalah murni karena anugerah, karunia yang dianugerahkan dengan cuma-cuma dari Allah. Ketika kita menyembah Allah, kita menyembah-Nya karena siapa Ia yang ada dalam diri-Nya sendiri. Ketika kita menghormati orang-orang kudus, kita memuji atas apa yang Allah lakukan di dalam dan melalui mereka. Selama perbedaan itu dipertahankan, semakin kita memuji orang-orang kudus, maka kita semakin memuliakan Allah. Argumen mengenai atribut ini adalah salah satu dari banyak obrolan. Dari api penyucian hingga orang-orang kudus hingga memahami kehendak Allah, ada banyak pertanyaan yang didiskusikan dan diperdebatkan oleh saya dengan teman-teman saya. Berdebat dengan berbagai orang dari tradisi teologis yang berbeda membantu saya untuk lebih memahami tradisi saya sendiri, dan mendorong saya untuk melihat jawaban apa yang ditawarkan oleh Gereja Katolik. Profesor menjadi bantuan besar ketiga yang saya terima dalam menjawab pertanyaan, “Haruskah saya menjadi Katolik?” Beberapa profesor yang ada di perguruan tinggi saya mempunyai apa yang saya sebut sebagai sikap kasihan terhadap Katolik. Mereka akan berkata, meskipun tidak dalam banyak perkataan, bahwa mereka secara keseluruhan setuju dengan Reformasi Protestan, atau tradisi Katolik yang satu ini. Masalahnya adalah beda profesor punya sikap kasihan yang berbeda. Maka, satu per satu, saya mulai menyusun potongan-potongan itu. Setiap kali bahasan mengenai Gereja Katolik muncul dalam perkuliahan, saya memikirkan dan mengaitkannya dengan pertanyaan menjadi Katolik. Di kelas bahasa Prancis, saya dihadapkan dengan budaya Katolik yang kuat, dengan perayaan hari-hari peringatan orang-orang kudus. Dalam kursus tentang filsafat kuno dan abad pertengahan, saya lebih banyak lagi membaca karya-karya Agustinus, Anselmus, dan Aquinas. Melalui ansambel musik, saya diperkenalkan dengan nyanyian Gregorian, polifoni Renaisans, dan berbagai lagu untuk Misa. Salah satu profesor bahasa Inggris saya adalah seorang sarjana Chesterton, saya dan beliau pernah melakukan obrolan bermanfaat di kantornya. Mungkin sikap kasihan terhadap Katolik yang paling berpengaruh berasal dari kelas sejarah mengenai Peradaban Barat. Profesor itu berusaha menyajikan gambaran yang adil dan seimbang mengenai Kekristenan Katolik menjelang Reformasi Protestan. Ia menyajikan perihal inti dengan mengatakan bahwa tidak semuanya hal itu buruk. Memang ada tindakan korupsi dalam hierarki, tapi Katolikisme abad pertengahan dan Renaisans juga menjadi saksi pertumbuhan dan pembaruan dinamis melalui ordo-ordo keagamaan baru seperti Dominikan dan Fransiskan, kerja keras dan doa komunitas monastik tradisional, pendirian universitas, dan perlindungan terhadap karya seni. Profesor itu menyajikan gambaran yang kompleks dan bernuansa Katolik pra-Reformasi. Kemudian ia meminta kami untuk membaca cerita pilihan dari Decameron karya Boccaccio. Satu kisah secara khusus membahas masalah korupsi dalam hierarki Gereja, dan mengubah argumen khas Protestan yang ada dalam pikirannya. Dalam kisah itu, ada seorang Yahudi dari Paris bernama Abraham yang membuat teman Katoliknya terkejut karena memutuskan untuk pindah agama, bahkan setelah mengunjungi Roma dan menyaksikan secara langsung tindakan korupsi dalam hierarki Gereja. Dari apa yang ia lihat, ia menjelaskan bahwa paus dan para kardinal di Roma seolah-olah sedang melakukan yang terbaik untuk menghancurkan agama Kristen. Namun, karena hal ini tidak terjadi, malahan Kekristenan tumbuh dan berkembang, ia menjadi yakin bahwa agama Kristen sudah benar-benar dibimbing dan dilindungi Roh Kudus. Dalam kisah ini dan juga dari gambaran kompleks Katolik pra-Reformasi yang disajikan oleh profesor sejarah saya, saya mulai melihat bahwa dosa-dosa para pemimpinnya justru membuat klaim Gereja Katolik semakin sulit ditolak. Jika Gereja Katolik hanyalah sebuah institusi manusia, bagaimana dia bisa bertahan – dan berkembang – dengan para pemimpin manusia yang lemah dan tidak sempurna? Semua gagasan dan pengalaman inilah yang mendorong saya untuk bertindak. Saya sudah membaca berbagai buku, melakukan perdebatan, dan menghadapi sikap kasihan terhadap Katolik dalam diri profesor saya. Sekarang saya perlu sesuatu mengenai hal itu. Sejauh ini semuanya masih dalam ranah pemikiran. Saya membutuhkan pengalaman praktis. Jadi pada tanggal 9 Januari 2005, pada Pesta Pembaptisan Tuhan, saya melakukan kunjungan perdana ke gereja Katolik untuk ikut Misa hari Minggu. Saya mencari paroki yang paling dekat dengan kampus saya dan menemukan jalan menuju St. Luke Catholic Church di Nicholasville, Kentucky. Saya terkejut dengan betapa wajarnya Misa itu. Saya tidak yakin dengan apa yang saya harapkan, tapi bukti iman dari umat begitu jelas menghilangkan pemikiran saya bahwa Katolikisme itu hanyalah “tradisi mati” atau sekelompok orang “yang melakukan macam-macam gerakan.” Kelihatannya Misa tidak begitu berbeda dengan kebaktian persekutuan Methodist di tempat saya dibesarkan. Anehnya Misa terasa akrab. Meskipun waktu itu saya tidak berkata demikian, dengan melihat kembali ke belakang saya mengatakan bahwa peristiwa itu seperti pulang ke rumah untuk pertama kalinya. Pada waktu ini dalam perjalanan hidup saya, saya sudah melampaui sikap adil terhadap Gereja Katolik. Sekarang saya semakin menyukainya, menemukan bahwa Gereja Katolik itu benar, bukan hanya sesekali, tetapi dengan konstan. Bahkan, melalui Gereja Katolik membuktikan sumber kebijaksanaan dan kebenaran yang bisa diandalkan. Saya sedang dalam perjalanan menjawab pertanyaan, “Haruskah saya menjadi Katolik?” Pernyataannya sekarang menjadi sesuatu yang mendesak, dan jawaban saya sudah dekat. Mencoba Melarikan Diri dari Gereja Katolik Pada musim gugur pertama sewaktu saya kuliah, saya mulai menghadiri kelas RCIA di St. Luke Catholic Church dan mulai ikut Misa setiap hari Minggu di bulan Oktober itu. Saya juga memutuskan untuk bergabung dengan paduan suara paroki. Kedengarannya tidak seperti orang yang berusaha melarikan diri dari Katolikisme, tapi itulah upaya untuk membenamkan diri dalam kehidupan Gereja Katolik untuk melihat apakah pengalaman pribadi akan menegaskan pembelajaran pribadi saya. Saya sedang menguji semua bacaan dan argumentasi saya. Apakah Gereja Katolik benar-benar seperti yang dikatakan Chesterton? Apakah pengalaman saya di sebuah paroki Katolik yang nyata sesuai dengan yang saya baca dalam karya Agustinus, Anselmus, Aquinas, dan berbagai buku apologetika Katolik? Apakah dengan melihat Gereja Katolik dari dalam itu seperti yang terlihat dari luar? Di satu sisi, saya menginginkan gambaran saya tentang Katolikisme bisa terbukti salah. Akan lebih mudah dengan menjaga jarak dengan Gereja Katolik, hanya dengan mengagumi dan menghormatinya dengan tetap menjadi orang Methodist. Saya benar-benar tidak menunggu percakapan yang akan saya lakukan dengan keluarga dan teman jika saya menjadi Katolik. Tapi dengan saya terpapar dengan rutin dengan ibadat dan persekutuan Katolik di tempat saya itu tidak mengubah atau bertentangan dengan tahun-tahun pembelajaran dan doa. Dalam upaya saya untuk menemukan jalan keluar dengan cara bergabung dengan Gereja Katolik, saya mulai bertanya kepada beberapa mentor rohani yang bisa dipercaya, “Mengapa saya tidak menjadi Katolik?” Saya mengharapkan alasan mereka itu cukup buat saya. Tapi nyatanya tidak. Saya menemukan alasan-alasan mereka itu mengagumkan, tapi tidak berlaku buat saya. Bahkan saya mengalami ada seorang profesor yang dengan hangat memberi saya selamat atas keputusan saya yang akan datang, dan saya mengakui bahwa ia sering berharap punya kesempatan belajar lebih banyak tentang Gereja Katolik. Langkah Terakhir yang Tak Terduga Seperti yang dikatakan Chesterton, “Catatan tentang tahapan perubahan keyakinan ini tentu sangat negatif dan tidak memadai. Ada detik terakhir atau batas setipis rambut, sebelum besi melompat menuju magnet, jurang yang penuh dengan segala kekuatan alam semesta yang tidak terduga. Jarak antara melakukan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu itu seperti sesuatu sangat kecil dan sangat luas” The Catholic Church and Conversion, Ignatius Press, 2006, hlm. 83. Cerita saya sejauh ini agak sepintas dan terlalu dini. Hal ini disengaja, bahkan pada malam pengukuhan saya sebagai Katolik, saya tidak bisa mengartikulasikan sepenuhnya gagasan, kesan, dan pengalaman yang masuk dalam keputusan saya untuk bergabung dengan Gereja Katolik. Itulah sesuatu yang sangat pribadi, saya berulang kali gagal dalam usaha menjelaskannya kepada keluarga dan teman. Ada seribu alasan kecil yang semuanya mengarah pada keyakinan bahwa Gereja Katolik itu benar, ajarannya benar, dan untuk semua bagian manusiawinya itu benar-benar dibimbing dan diarahkan oleh Roh Kudus. Ada juga seluruh proses pertubuhan kesadaran ini dibimbing oleh kuasa ilahi menuju kesimpulan ini. Saya sudah dibesarkan oleh kedua orang tua saya, dan didorong oleh pengajaran bawaan sebagai seorang Methodist, untuk mencari tangan Tuhan yang bekerja dalam hidup saya, dan untuk mengikuti-Nya dengan percaya dan penuh keyakinan. Sekarang saya mampu melihat cukup banyak bentuk kehidupan saya di masa lalu untuk mengetahui keputusan apa yang harus saya perbuat pada masa ini, bahkan jika saya tidak bisa memprediksi hasil yang terjadi di masa depan. Pada Malam Paskah 2006, sebagai seorang junior di perguruan tinggi, saya diteguhkan dan diterima dalam Gereja Katolik. Pertumbuhan dalam Gereja Katolik di Kemudian Hari Beberapa keluarga dan teman saya takut bahwa dengan bergabung dengan Gereja Katolik saya akan memasuki tempat dingin dan gelap dalam artian rohani. Saya sudah menemukan hal yang sebaliknya penuh cahaya dan kehangatan yang menyilaukan. Saya beruntung sudah mengenal beberapa bapa pengakuan yang baik, pembimbing rohani yang bijaksana,dan pembawa homily yang dinamis. Secara rutin saya menemukan Kitab Suci terbuka bagi saya dengan cara yang baru dan menarik. Saya sudah menjali persahabatan dengan banyak teman Katolik dan menemukan di Gereja Katolik tentang teladan iman, harapan, dan kasih yang memberikan inspirasi. Saya sudah bertumbuh dalam iman Katolik saya dan sudah menemukan semangat dan kelembutan devosi Katolik. Saya dipelihara dalam Sabda dan Sakramen. Allah sudah sangat baik terhadap saya. Hati saya penuh. Setelah lulus dari perguruan tinggi dengan gelar Bahasa Klasik, saya diterima di sekolah pascasarjana di Catholic University of America, tempat saya menerima gelar master dan doktorat dalam bahasa Yunani dan Latin. Selama saya di CUA, saya semakin dipupuk dalam iman Katolik saya melalui Misa harian dan sering mengaku dosa di Basilica of the National Shrine of the Immaculate Conception dan doa malam di Dominican House of Studies. Saya juga terlibat dalam schola paduan suara nyanyian Gregorian dan kelompok dewasa muda di paroki saya di Maryland. Saya tidak pernah menyesali keputusan saya atau meragukan keyakinan saya bahwa Gereja Katolik itu seperti yang dia nyatakan. Faktanya, setelah 14 tahun dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, dan beribadah dalam lebih dari Misa di tujuh negara berbeda, dalam tujuh bahasa yang berbeda, saya merasa lebih yakin sebelumnya bahwa saya sudah mengambil keputusan yang tepat, dan saya berada di tempat yang Allah kehendaki bagi saya. Saya berada di rumah. B. A. Lewis memasuki Gereja Katolik pada Malam Paskah 2006 dan melanjutkan studi untuk meraih gelar sarjana dalam bidang Bahasa Klasik dari Asbury College dan gelar master dan doktor dalam bidang bahasa Yunani dan Latin dari Catholic University of America. Ia dan istrinya pernah tinggal selama tiga tahun di Athena, Yunani, dan sekarang tinggal bersama tiga anaknya di dekat Washington, DC, di mana Dr. Lewis bekerja sebagai Direktur Pelayanan Penerjemahan untuk International Commission on English in the Liturgy ICEL. Sumber “Why and How I Became Catholic”
Pertobatan Seorang Anak 14 Tahun Kisah Justin Motes Justin Motes Halo nama saya Justin, saya berasal dari negara bagian Georgia Amerika Serikat dan saya berumur 14 tahun. Saya menuliskan kisah ini untuk berbagi cerita tentang pertobatan saya ke Gereja Katolik, yang terjadi pada usia muda saya. Pertobatan saya merupakan pengalaman yang sungguh hebat untuk diriku sendiri, begitu juga untuk keluargaku. Kedua orang tua saya tidak pernah mengira bahwa seorangpun dari anggota keluargaku akan menjadi seorang Katolik. Saya mengadiri kebaktian pertama saya ketika berumur enam tahun di gereja Baptis setempat. Nenek saya yang akan membawa saya ke kebaktian dan saya selalu duduk bersamanya. Saya mencintai sekolah Minggu dan menikmati khotbahnya. Hal yang menakjubkan untuk seorang anak berumur enam tahun untuk memperhatikan dan mengambil pelajaran dari khotbah yang “kuno dan membosankan” seperti anak-anak lain dan para remaja katakan. Apakah saya berpikir ini adalah batu loncatan kepada pertobatan saya? Tidak. Saat saya melanjutkan kehidupan menggereja saya, saya semakin jarang mengikutinya dan semakin jarang lagi. Ketika usia saya bertambah, saya mengesampingkan Tuhan, akan tetapi saya selalu teringat pelajaran sekolah Minggu dan khotbah-khotbahnya. Saya masih mengingat dengan jelas ketika saya bermain sebuah permainan dengan sepupu-sepupu saya dan mereka akan mengatakan suatu kebohongan. Saya akan berkata, “Tuhan tidak menyukai kebohongan.” Apakah saya menggunakannya sebagai sebuah cara untuk membuat mereka memberitahukan yang sebenarnya? Ya. Apakah saya tahu bahwa hal itu memiliki arti teologis yang mendalam dari pemikiran saya? Tidak, tidak sama sekali. Sekitar ulang tahun saya yang ke-11, saya merasa sedikit bersalah karena tidak pergi ke gereja. Sehingga, saya mulai ke gereja sebulan sekali, kadang-kadang dua kali. Walaupun saya seringkali mengenyahkan perasaan itu daripada tidak sama sekali, namun saya tetap merasa sangat bersalah. Dari perasaan ingin dibanggakan yang terdalam, saya mulai pergi ke gereja setiap Minggu dan memamerkannya di sekolah, seolah-olah saya ini lebih baik daripada orang lain. Walaupun demikian, Kristus mulai semakin membentuk jiwaku, meskipun penampilan luar saya yang berupa rasa pamer. Sekarang inilah bagian yang menarik pada usia saya yang ke-12, waktu itu saya di sekolah menengah, entah bagaimana saya terlibat dalam Yudaisme agama Yahudi. Mungkin karena saat itu saya berminat mempelajari agama lain atau karena kebutuhan untuk memuaskan dahaga saya akan pengetahuan, atau mungkin saja merupakan langkah pertama dari pertobatan saya. Yudaisme benar-benar membuat saya terjebak. Saya merasakan adanya kaitan satu sama lain antara tradisi dan iman, tetapi ada sesuatu yang hilang, dan saya tahu persis apa itu Yesus. Melalui pencarian dan doa, saya menemukan satu iman, yang memenuhi kebutuhan pribadi saya yaitu Gereja Katolik. Mungkin ini adalah jalan Tuhan yang mengarahkan saya kepada Iman? Iman Katolik beresonansi membentuk suatu keharmonisan dengan saya, ternyata semua ada di situ Tradisi, Iman, Yesus dan yang penting Kebenaran itu sendiri. Eklesiologi ilmu tentang Gereja dan penjelasan doktrin Katolik oleh para apologis Katolik benar-benar mengarahkanku pada Iman. Saya terpikat. Walaupun demikian pertobatan saya tidak semudah itu, khususnya sejak saya belajar untuk studi saya di sekolah, menjalin kehidupan sosial, dan mempelajari ajaran Katolik, beberapa hal yang mudah seperti doktrin api penyucian. Nenek dan ibu saya yang menganut ajaran gereja Baptist, keduanya pecaya bahwa setelah kematian terdapat penderitaan penyucian, dan mereka mengajarkan hal itu kepada saya, sehingga saya sudah mempercayainya sebelum saya mengikuti kelas untuk menjadi Katolik. Sedangkan, hal lain berdatangan sedikit lebih sulit untuk dipercaya dibandingkan hal yang lainnya. Saya yakin hal yang paling sulit saya terima yaitu penghormatan kepada Maria dan memohon perantaraannya. Sebagai seorang Baptis, saya diajarkan dengan sangat tegas bahwa tak satupun kecuali Tuhan yang dapat mendengarkan doa-doa anda dan hanya ada satu Perantara antara Tuhan dan manusia, yaitu Yesus. Hal yang mengejutkan saya, bahwa hal itu tidak jauh berbeda dengan apa yang orang Katolik percayai. Setelah saya mendengarkan beberapa kaset oleh apologis Katolik seperti Scott Hahn, saya mengerti doktrin tersebut, dimana saya dapat menerima doktin tersebut dengan lebih murah hati. Dengan ijin dari ibu saya, saya menghadiri Misa pertama saya pada hari Selasa sebelum Minggu Palma dan menjadi kejutan besar untuk saya! Pikiran yang terlintas di benak saya adalah, siapa wanita bersama malaikat dan sesuatu seperti “kaktus” disekelilingnya Maria? Kotak apa disana Tabernakel? Mengapa ada podium di sebelah samping? Mengapa orang-orang menandai diri mereka sendiri dengan air dan berlutut ketika memasuki bangku? Ada banyak pertanyaan yang dapat saya tuliskan, tapi ini hanya beberapa saja. Ketika saya memperkenalkan diri, Imam sangat baik kepada saya sebagai pendatang baru. Untuk 12 bulan selanjutnya, saya terlibat pencarian yang terus menerus, devosi, dan kadang-kadang beberapa perdebatan-perdebatan sengit. Pada 7 April 2012, saya diterima di Gereja Katolik dan menerima Ekaristi Kudus untuk pertama kalinya. Saat itu menjadi saat terpenting dalam hidup saya setelah sekian lama. Melalui seluruh perjalanan ini, ibu dan ayah saya mendukung saya, dan saya tahu bahwa Yesus ada di sebelah saya, memimpin saya melalui kesulitan dan masalah. Terima kasih Yesus. Nama saya Justin Motes, saya tinggal di Georgia, Amerika Serikat. Saya berumur 14 tahun. Saya menyukai mempelajari agama, bermain piano, dan bergaul dengan teman-teman saya. Saya ingat untuk memilki waktu untuk berdoa dan berdevosi setiap hari, dan yang lebih penting, saya seorang Katolik oleh karena kasih karunia Tuhan. Catatan tambahan dari penerjemah Syukur kepada Allah atas kesaksian dari saudara kita, Justin Motes. Semoga kesaksian ke pangkuan Gereja Katolik ini semakin menguatkan iman kita semua, baik yang muda maupun yang sudah tua. Sehingga tidak ada kata terlambat untuk pulang. Semoga saudara kita ini senantiasa dibimbing oleh Allah Tritunggal Mahakudus dalam perjalanan hidupnya yang masih panjang. Semoga imannya bertambah kuat dan berbuah dalam karya nyata. Judul Asli My Conversion to the Catholic Church – Justin Motes diakses tanggal 5 Februari 2013, diterjemahkan oleh Arief Prilyandi. Pax et Bonum follow Indonesian Papist's Twitter
KITAB SUCI +Deuterokanonika - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju Katekismus Gereja Katolik Artikel Pengalaman Iman Ruang Kesaksian/Pengalaman iman Siapakah Diantara Kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Surat dari Jepang Kekuatan penyembuhan Ekaristi Menjamah Yesus dalam Ekaristi Yesus benar-benar bekerja saat Misa Burung Berkicau Yesus tidak pernah meninggalkanku Bebanku terlepas berkat Novena Hati Kudus Yesus Sharing Valentine Cinta Yang Tidak dapat Kuraih new Sebuah Kesaksian - Kebaikan Tuhan Iman yang Menyembuhkan Bagaimana Tuhan Memanggil Keluarga Steve Ray dari Baptis menjadi Katolik Ulangan Umum dari Milis PDRK Tuhan adalah satu-satunya tujuan Mukjijat penyembuhan dari Multiple-Sclerosis Gereja Pantekosta yang menjadi Katolik Pdt. Alex Jones Menghirup Nafas Katolik oleh David Palm Kesaksian pendeta Larry dan Joetta Lewis Kesetiaan dalam Gereja Katolik Kesaksian dari "H" Disinilah Kesudahan Dari Kemuliaan Dunia Imam-imam Jesuit yang selamat dari pusat ledakan Bom Atom di Herosima Jika Saudara-Saudara memiliki pengalaman telah mengalami Rahmat Dari Allah lbaik lewat Bapa, Putra atau Roh Kudus secara Pribadi atau anda memiliki pengalaman manis lainnya bersama Allah silahkan mengirimkan Kesaksian/Sharing anda kepada kami pada alamat email artikel untuk kemudian ditampilkan pada website sebelumnya kami akan melakukan editing, bilamana ada sharing yang kurang sesaui dengan iman katolik Tuhan Yesus Memberkati
kisah pengalaman iman katolik